Cara Mewujudkan Jalinan Cinta dan Kasih Sayang

Berikut ini beberapa contoh cara dan pendekatan praktis yang dapat dipraktikkan untuk mewujudkan jalinan cinta dan kasih sayang di antara pasangan suami istri.

  • Masing-masing suami istri menghindari tindakan membanding-bandingkan pasangannya dengan orang lain dalam hal bentuk penampilan atau watak dan karakter.
  • Masing-masing suami istri menghindari tindakan selalu mengkritik salah satu ciri tertentu yang melekat pada pasangannya, terlebih lagi jika itu merupakan hal yang menjadi titik kekurangannya, seperti terlalu gemuk, bentuk dan ukuran hidung yang kurang mancung, mata sipit, kurus, jangkung atau pendek.
  • Masing-masing suami istri memuji pasangannya atas seleranya yang istimewa, kepandaiannya, kesusilaannya dan berbagai sisi positif yang dimilikinya, serta mengekspresikan kekaguman dan pujian kepadanya.
  • Menghindari tindakan langsung mengkritik dan mengomentari pasangannya ketika pasangan berinisiatif mengubah dan memperbaharui sesuatu pada penampilan atau pakaiannya. Sebagai gantinya, hendaklah pasangan memberikan saran dan masukan.
  • Tidak membanding-bandingkan antara makanan yang disajikan dengan makanan lain hasil masakan ibu, saudara perempuan atau lainnya.
  • Tidak berlebih-lebihan dalam memuji apa yang dilihatnya pada orang lain ketika pulang ke rumah.
  • Masing-masing dari suami dan istri saling memberikan hadiah dari waktu ke waktu dan dalam berbagai kesempatan.
  • Jangan meremehkan pendapat masing-masing pasangan, tidak mengolok-olok ide, pemikiran dan ketidaktahuannya.
  • Menghindari tindakan mengkritik dan menasihati pasangan di depan orang lain.
  • Tidak mengeluarkan kata-kata yang bernada menyerang dan menyakiti hati meskipun sedang marah.
  • Tidak menyalahkan dan mengomeli pasangan ketika lupa melaksanakan suatu tugas dan kewajiban atau ketika tidak dapat mengerjakannya dengan baik dan benar.
  • Meluangkan waktu untuk duduk bersama, berbincang-bincang dan saling mendengarkan satu sama lain.
  • Masing-masing suami istri menganggap bahwa apa pun kekurangan yang terjadi merupakan tanggung jawab bersama mereka berdua.
  • Masing-masing suami istri mau mendengar nasihat dan masukan dari pasangannya menyangkut masalah yang dihadapinya.
  • Masing-masing suami istri menjaga komitmen untuk tidak menggunakan suara keras dan bernada tinggi ketika berdebat.
  • Bersedia meminta maaf dengan cara yang baik, lembut dan tulus ketika benar-benar salah.
  • Masing-masing suami istri memperhitungkan dan memperhatikan keadaan mental, kejiwaan dan fisik pasangannya (seperti ketika haid atau nifas, sedang melakukan perjalanan atau sedang menjalankan tugas).
  • Saling memanggil dengan nama panggilan yang paling disukai pasangan.
  • Mengucapkan salam dan menampakkan wajah yang ceria ketika pulang ke rumah.
  • Saling membangunkan satu sama lain untuk mengingat Allah dan qiyamullail.
  • Saling memotivasi satu sama lain untuk membaca Al-Quran, membaca wirid dan zikir, menjalankan fungsi dan kewajiban, mengeluarkan sedekah, membaca bacaan yang berguna dan mendengar hal-hal yang berguna.
  • Membuat tabungan untuk menunaikan ibadah haji, untuk infak donasi di jalan Allah, dan sebagainya.
  • Pergi bersama untuk berjalan-jalan dan rekreasi dari waktu ke waktu.
  • Menghindari tindakan membahas kekurangan-kekurangannya pasangan secara keseluruhan sekaligus, tetapi hendaknya itu dilakukan secara bertahap satu per satu dengan dibagi dalam beberapa kesempatan sambil menunggu momen dan kesempatan yang tepat.
  • Saling memahami psikologi, karakter dan kepribadian masing-masing (seperti pemalu, cemburu, sensitif, mudah marah dan sebagainya).
  • Senantiasa mencamkan prinsip umum “waktu adalah bagian dari penanganan dan solusi.”
  • Senantiasa berdoa memohon kepada Allah tentang apa yang dia harapkan dan ekspektasikan pada diri pasangannya.
  • Memilih waktu yang tepat untuk mulai membuka suatu permasalahan, tidak melakukan hal itu di saat waktu makan, di saat baru masuk pintu, di saat baru bangun tidur dan di saat-saat tidak tepat lainnya
  • Saat memaparkan suatu permasalahan hendaklah tidak langsung melancarkan tuduhan “kamu begini dan begitu” tapi dimulai dengan mendeskripsikan perasaan pribadi, seperti, “Saya merasa demikian dan demikian.” Hal itu karena pendekatan yang menggunakan model tuduhan langsung seperti itu akan memunculkan reaksi ingin membela diri.
  • Fokus pada satu topik tertentu saja, tidak mengungkit-ungkit kembali sejarah perselisihan-perselisihan sebelumnya.

(Dikutip dari buku karangan Abu Al-Hamd Rabi’ dengan judul Membumikan Harapan Rumah tangga Islam Idaman, halaman 89-91)

Total
0
Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts