Tanggung Jawab Suami dan Tanggung Jawab Istri

“Setiap diri kalian adalah pemimpin, dan masing-masing diri kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas kepemimpinannya. Kepala negara adalah pemimpin, suami adalah pemimpin bagi rumah tangganya, istri adalah pemimpin bagi rumah suami dan anaknya. Setiap kalian adalah pemimpin dan masing-masing dari kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas kepemimpinannya.” (HR.Bukhari)

Tanggung Jawab Suami

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri) karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan  nafkah dari hartanya.” (Q.S An-Nisa : 34)

  • 1. Penopang Keluarga

Dalam menafsirkan ayat 34 surah An-Nisa di atas, Imam Muhamamd Abduh dalam tafsir Al-Manar berkata, “Kehidupan rumah tangga antara suami istri merupakan bagian dari kehidupan sosial. Dalam setiap komunitas sosial haruslah terdapat orang yang memimpin. Sebab orang-orang yang tergabung dalam  suatu komunitas sosial pastilah memiliki pemikiran dan pendapat yang beragam dan juga kesenangan-kesenangan mereka terhadap sesuatu. Kepentingan mereka hanya akan tercapai jika di antara mereka terdapat seorang pemimpin yang dapat dijadikan sebagai tempat mengadu ketika terjadi konflik di antara mereka. Hal itu dilakukan agar golongan yang satu tidak menyerang yang lain dan individu yang satu tidak mengganggu individu yang lain. Sebab, jika sikap saling menyerang dan mengganggu terjadi maka ikatan persatuan dan kesatuan akan semakin memudar dan mengacau sistem dan tatanan sosial.”

Dalam hal ini, lelaki lebih berhak menduduki tampuk kepemimpinan tersebut karena diyakini lebih memahami kepentingan bersama dan lebih mampu melaksanakan tugas-tugas dan tanggung  jawabnya dengan segenap kekuatan dan harta benda yang dimilikinya. Oleh karena itulah maka laki-laki merupakan orang yang harus bertanggung jawab menjaga dan melindungi perempuan dan memberi nafkah dalam pandangan syariat. Sedangkan perempuan dituntut untuk mematuhinya dalam kebaikan.

Kepemimpinan dalam keluarga bukanlah kepemimpinan otoriter, melainkan berdasarkan prinsip musyawarah karena musyawarah dianjurkan kepada umat Islam dalam menghadapi segala urusannya. Bermusyawarah dalam rumah tangga  seperti ini diatur dengan beberapa ketentuan. Di antaranya adalah firman Allah swt., “Dan mereka (para perempuan) mempunyai hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut (Al-Baqarah:228).” Juga ketentuan-ketentuan umum yang berkaitan dengan pernikahan, perceraian, dan etika mempergauli istri. Begitu pula dengan sejumlah norma dan etika yang mengendalikan kehidupan ini secara keseluruhan dan mengarahkannya menuju kebaikan. Kepemimpinan dalam keluarga juga dilaksanakan dengan penuh cinta dan kasih sayang.

  • 2. Bertanggung jawab dalam memberikan nafkah keluarga

Prinsip dan point ini adalah suami memiliki kemampuan untuk mencari pekerjaan, sedangkan istri setelah menghadapi beratnya mengandung dan melahirkan, mengurus dan mengasuh anak serta mengurusi rumah tangga membuatnya sibuk dan tidak berkonsentrasi dalam mencari pekerjaan. Atau sesuai ungkapan Al-Hafidz Ibnu Hajar, “Istri terpaksa tidak bisa bekerja demi memenuhi hak suami.”

Jabir bin Abdillah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw, bersabda:

“Mereka (perempuan-perempuan itu) berhak mendapatkan nafkah dan pakaian yang layak, yang menjadi tanggung jawab kalian (para suami).” (HR. Muslim)

Tanggung Jawab Istri

  • 1. Patuh Kepada suami

Prinsip-prinsip kepatuhan istri terhadap suami antara lain sebagai berikut,

  • Taat dalam perkara yang tidak bermaksiat kepada Allah.
  • Taat semampunya.
  • Taat dengan sikap saling menghormati dan menghargai.
  • Taat yang muncul dari dalam jiwa dan atas dasar cinta serta kasih sayang.
  • Taat dengan mengembangkan sikap saling bermusyawarah.
  • Taat untuk saling memberikan nasihat dan mengingatkan, berkorban,dan berkomitmen menjalankan agama dan syariat Allah.
  • 2. Mengasuh dan Mendidik Anak-Anak

 Tanggung jawab seorang istri dalam mengasuh dan mendidik dimulai sejak mengandung, bukan setelah persalinan. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah swt :

Dan kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan. (Al-Ahqaf: 15)

Dalam ayat lain Allah swt berfirman:

Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. (Luqman: 14)

  • 3. Menangani Urusan Rumah Tangga

Dalam hadist disebutkan bahwasanya Fatimah binti Rasulullah melakukan pekerjaan sendiri di rumah suaminya dan meminta diberikan seorang pembantu oleh Rasulullah akan tetapi Rasulullah tidak mengabulkannya karena Ahlus Suffah lebih membutuhkannya.

Begitu juga dengan Asma’ binti Abu Bakar. Dia menangani urusan rumah tangganya tidak dibantu dengan pembantu meskipun menghadapi pekerjaan rumah yang berat. Seorang sahabat perempuan terhormat juga harus menangani urusan rumah tangga di rumah suaminya, Jabir bin Abdillah serta mengasuh saudara-saudaranya yang masih kecil.

Sumber: Membumikan Harapan Rumah Tangga Islam Idaman karya Abu Al-Hamd Rabi halaman 30-37

Total
0
Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts